Tren

Kemenkes Ingatkan Cara Aman Saat Potong Hewan Kurban

Ilustrasi sapi, hewan kurban. (Gambar oleh Eliza dari Pixabay)

TopCareer.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk waspada antraks di momen Iduladha, mengingat ada risiko penularan saat proses pemotongan hewan kurban.

Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes menyebut, antraks bisa menular dengan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, baik kontak lewat kulit atau inhalasi.

Penularan juga bisa terjadi ke manusia melalui konsumsi daging yang kurang matang saat dimasak, serta paparan bakteri Bacillus anthracis di tanah dan limbah

“Spora ini bertahan cukup lama di lingkungan dan juga bisa banyak terdapat pada limbah daripada proses pemotongan hewan,” kata Andi dalam konferensi pers Badan Komunikasi Pemerintah.

Meski tren kasus di Indonesia diklaim cenderung menurun, Kemenkes pun tetap mengingatkan warga untuk waspada terhadap antraks saat memotong hewan kurban.

Baca Juga: Jelang Iduladha, Ini Tips Pilih Hewan Kurban yang Sehat dan Layak

“Pada saat penyembelihan, yang paling kita khawatirkan adalah kontak darah dengan orang yang bertugas untuk menyembelih,” kata Andi di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Kemenkes pun meminta agar tukang potong hewan kurban menjaga diri dengan empat alat saat proses penyembelihan, untuk mencegah penularan penyakit dari hewan.

Perlengkapan pertama adalah celemek, yang digunakan untuk menjaga diri dari cipratan darah atau kotoran hewan. Kemudian, petugas diminta menggunakan masker.

“Jadi standarnya itu harus pakai master karena antraks tersebut dapat menular melalui inhalasi,” kata Andi.

Perlengkapan lain yang harus digunakan petugas pemotongan hewan adalah sarung tangan, untuk menjaga tubuh dari cipratan darah atau kotoran, yang bisa jadi media penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Lalu, petugas juga diminta memakai sepatu bot saat proses penyembelihan.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Ini Ciri-Ciri Hewan Kurban Sehat menurut Pakar Unair

Usai penyembelihan, Kemenkes mengimbau masyarakat tidak membuang darah hewan ke air sungai.

Andi menyarankan jika pemotongan berada di atas permukaan tanah, tanah tempat penyembelihan digali terlebih dulu supaya darah hewan kurban dapat dialirkan ke dalam lubang tersebut.

Setelah proses penyembelihan selesai, darah maupun limbah padat seperti organ dalam dan kotoran hewan kurban juga perlu dikubur dengan baik, untuk membantu mencegah potensi penularan infeksi antraks.

Sementara apabila proses penyembelihan dilakukan di permukaan bukan tanah, lokasi pemrosesan daging hewan harus dibersihkan dan disinfeksi, serta pastikan tidak ada darah tersisa.

Leave a Reply