Tren

Rupiah Lesu, Ini Tips Jaga Keuangan Tetap Aman

Ilustrasi uang rupiah. (Gambar dibuat dengan AI Gemini)

TopCareer.id – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan berimbas pada harga berbagai kebutuhan pokok hingga biaya hidup sehari-hari.

Budi Wahyu Mahardhika, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pun memberikan beberapa tips finansial bagi masyarakat, agar dampak pelemahan rupiah tidak terasa lebih memberatkan.

Pertama, kurangi ketergantungan pada utang konsumtif. Masyarakat diimbau untuk menghindari cicilan barang yang tidak mendesak dan mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

“Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting,” kata Budi, mengutip laman resmi Umsura, Jumat (22/5/2026).

Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk menunda pembelian yang tidak terlalu diperlukan, untuk menjaga stabilitas keuangan jangka panjang.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Harga Bahan Pokok hingga Transportasi Dibayangi Kenaikan

Kedua, bangun dana darurat secara konsisten walau dimulai dari nominal yang kecil. Budi mengatakan, dana darurat sangat penting untuk melindungi keluarga dari kondisi tak terduga.

“Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial,” ujar dosen manajemen

Tinjau ulang anggaran rumah tangga dan kebiasaan pengeluaran sehari-hari. Adanya kebocoran kecil dalam pengeluaran kerap tidak disadari, namun bisa menguras pendapatan bulanan.

Karena itu, masyarakat diimbau menyusun ulang prioritas pengeluaran dengan memilih alternatif yang lebih hemat, misalnya dengan memasak sendiri di rumah dan mengurangi kebiasaan nongkrong atau membeli kopi di kafe.

Budi menambahkan, tidak ada salahnya memiliki sumber penghasilan tambahan dan meningkatkan literasi keuangan.

Baca Juga: Pakar: Warga Desa Tetap Berisiko Terdampak Pelemahan Rupiah

Menurutnya, ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat masyarakat lebih rentan saat terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) atau perlambatan ekonomi.

“Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar,” katanya.

Terakhir, lindungi nilai tabungan dengan diversifikasi aset. Budi menyarankan masyarakat tidak menyimpan seluruh tabungan dalam bentuk uang tunai rupiah.

Pertimbangan untuk instrumen yang lebih aman dan likuid seperti emas, deposito, atau obligasi.

Di samping itu, Budi mengatakan bahwa dukungan sosial dan komunitas juga penting sebagai penopang saat menghadapi situasi ekonomi yang sulit.

Leave a Reply