Tren

Mal dan Konser Tetap Ramai Walau Krisis Ekonomi, Apa Itu Lipstick Effect?

Ilustrasi pengurusan izin event semakin dipermudah oleh pemerintah - konser.Ilustrasi konser. (Pexels)

TopCareer.id – Di tengah krisis ekonomi dan harga yang melonjak, banyak masyarakat yang lebih memilih untuk mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya memuaskan diri seperti belanja fesyen, hobi, kosmetik, hingga tiket konser. Fenomena ini disebut sebagai lipstick effect.

Lipstick effect berarti saat orang membeli barang-barang yang memberikan perasaan bahagia atau memuaskan diri sendiri, meski kondisi ekonomi sedang sulit. Sesuatu yang dibeli biasanya terjangkau, bukan kebutuhan pokok, namun bisa memberikan kepuasan emosional secara cepat.

Mengutip Yonder Consulting, lipstik menjadi simbol dari tren ini karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan barang mewah lain seperti pakaian atau aksesori desainer. Karena itu, benda itu dinilai sebagai bentuk kemewahan yang paling mudah terjangkau.

Dilansir CNBC, teori lipstick effect pertama kali dilihat dalam masa Depresi Besar tahun 1930-an. Popularitasnya meningkat di awal 2000-an, saat Leonard Lauder, mantan Chairman perusahaan kosmetik Estée Lauder, melihat lonjakan penjualan lipstik setelah serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Baca Juga: Rupiah Lesu, Ini Tips Jaga Keuangan Tetap Aman

Menurut analis ritel Peel Hunt, John Stevenson, lipstick effect menggambarkan kecenderungan masyarakat membeli hadiah kecil untuk diri sendiri saat mengalami tekanan finansial.

“Saat tidak mampu membeli gaun baru, Anda masih bisa membeli lipstik baru. Saat tidak bisa membeli sofa baru, Anda mungkin membeli bantal atau dekorasi rumah. Saat tidak bisa merenovasi rumah, Anda masih bisa membeli taplak meja baru,” kata Stevenson, ditulis Rabu (3/6/2026).

Mengutip laman Universitas Medan Area, fenomena ini banyak dibahas di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tren lipstick effect diamati terlihat pada kelompok kelas menengah, yang tetap ingin mempertahankan gaya hidup tertentu, meski merasakan tekanan ekonomi.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. Secara psikologis, manusia membutuhkan rasa kendali dan normalitas saat menghadapi stres.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Tekanan Hidup Kelas Menengah Bertambah

Ketika ekonomi sedang sulit, membeli sesuatu yang kecil dan menyenangkan seperti secangkir kopi atau lipstik baru, bisa jadi sebuah self-reward.

Dengan membeli barang kecil yang terjangkau, otak merasa “masih bisa menikmati hidup.” Ini adalah mekanisme coping atau cara mengatasi stres yang cukup efektif dalam jangka pendek.

Sementara dari sisi ekonomi, ini memperlihatkan pergeseran pola belanja, bukan peningkatan daya beli secara keseluruhan.

Orang tidak kaya mendadak, namun lebih selektif dengan mengurangi pengeluaran besar yang berisiko, lalu mengalihkan uang ke barang yang memberikan kepuasan cepat dengan harga lebih rendah.

Bukan penanda ekonomi baik-baik saja

Karena lipstick effect bukan penanda ekonomi baik-baik saja, fenomena ini harus dilihat sebaga sinyal bahwa masyarakat sedang berusaha bertahan di tengah tekanan.

Jika dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik, pola ini akan menyebabkan masalah keuangan jangka panjang, seperti menumpuknya utang konsumtif atau kurangnya tabungan darurat.

Fenomena ini memang punya dampak positif, terutama mempertahankan pelaku usaha di sektor-sektor tertentu seperti kecantikan, makanan, atau hiburan. Selain itu, konsumen juga bisa menjaga kesehatan mental di tengah terpaan berita negatif.

Namun, apabila dilakukan tanpa kontrol, individu dapat terjebak dalam siklus pengeluaran impulsif. Uang yang harusnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting, juga rentan habis untuk hal-hal yang sifatnya sementara.

Pemerintah dan pelaku ekonomi pun harus melihat fenomena ini untuk menyusun kebijakan yang tepat, seperti mendorong konsumsi yang produktif, serta memberikan insentif untuk tabungan dan investasi jangka panjang.

Leave a Reply