Profesional

AI Ubah Dunia Kerja, Ini 5 Strategi HR biar Tak Tertinggal

TopCareer.id – Berubahnya dunia kerja yang terdampak era kecerdasan buatan (AI) juga mengubah strategi rekrutmen. Maka dari itu, praktisi dan profesional di bidang Human Resource (HR) pun harus siap beradaptasi dengan AI.

Kevin Thompson, CEO & AI Transformation Architect, PEEPL pun mengungkapkan beberapa strategi yang dapat dilakukan HR dan pimpinan bisnis dalam menghadapi era AI.

  • Strategic workforce planning harus dimulai dari tujuan bisnis, bukan sekadar mengisi kursi kosong

Dalam siniar Power Talks dari Jobstreet by SEEK, Kevin menyoroti bahwa banyak pimpinan HR yang masih bekerja secara reaktif, yaitu merekrut saat ada posisi yang kosong.

Menurutnya, pendekatan seperti ini membuat perusahaan sulit membangun keberlanjutan jangka panjang karena keputusan tenaga kerja tidak benar-benar terhubung dengan arah bisnis.

Untuk itu, strategic workforce planning perlu dimulai dari pemahaman yang jelas terhadap visi CEO, prioritas bisnis, dan arah pertumbuhan perusahaan.

Dengan begitu, fungsi HR tidak hanya merespons kebutuhan sesaat, tetapi ikut membantu perusahaan menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk masa depan.

  • Perusahaan perlu memahami skill yang sudah dimiliki dan yang akan dibutuhkan

Menurut Kevin, pilar kedua dari strategic workforce planning adalah workforce visibility.

Ia menjelaskan, perusahaan harus punya gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan yang sudah ada di dalam perusahaan, sekaligus kesenjangan kapabilitas yang harus ditutup agar tetap relevan di masa depan.

“Tanpa visibilitas ini, perusahaan berisiko mengambil keputusan hiring atau development yang tidak tepat sasaran,” kata Kevin, mengutip siaran pers, Senin (20/7/2026).

Sementara untuk pimpinan HR, pemetaan skill menjadi fondasi penting agar strategi talenta benar-benar berbasis kebutuhan bisnis, bukan asumsi.

Baca Juga: Lowongan Kerja Makin Banyak Cari Skill AI, Lulusan Baru Harus Siap

  • Rencana kebutuhan SDM yang efektif harus menggabungkan rekrutmen eksternal dan pengembangan internal

Jika arah bisnis dan kondisi workforce sudah dipahami, susunlah rencana kebutuhan SDM yang lebih terstruktur.

Menurut Kevin, perusahaan perlu menentukan dengan lebih disiplin mana kapabilitas yang harus dicari dari luar, dan mana yang sebaiknya dibangun dari dalam melalui pengembangan.

Pendekatan ini menurutnya mampu membantu perusahaan mengelola biaya, mempercepat kesiapan SDM, dan membangun pipeline kemampuan secara lebih berkelanjutan.

Dalam konteks bisnis yang berubah cepat, keseimbangan antara buy dan build menjadi semakin krusial.

  • AI bukan pengganti manusia, tetapi penguat kualitas keputusan HR

Kevin melihat bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih informasional, bukan sebagai pengganti manusia.

Menurutnya, AI dapat membantu mengintegrasikan data dari berbagai sistem agar perusahaan memiliki gambaran lebih menyeluruh tentang kondisi tenaga kerja.

“AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” kata Kevin.

Namun, ia juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan etika dan judgment manusia. “Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. Etika di balik sebuah keputusan,” kata Kevin.

Karena itu, nilai terbesar AI justru muncul ketika teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas analisis, sementara keputusan penting tetap dijalankan dengan pertimbangan manusia.

“Kita bisa mendapatkan lebih banyak data dengan bantuan AI, tetapi berdasarkan data tersebut, tetap ada etika di balik keputusan yang harus kita ambil,” Kevin menegaskan.

Baca Juga: Jutaan Pelaku Usaha Sudah Pakai AI, Talenta Digital RI Masih Kurang

  • Transformasi AI dan workforce planning tidak perlu dimulai dari perubahan besar sekaligus

Ketimbang terlalu lama berdiskusi atau mencoba merombak seluruh perusahaan dalam satu langkah, perusahaan sebaiknya memulai dari pilot kecil di satu fungsi atau departemen. Dari situ, perusahaan bisa belajar dan melakukan iterasi.

Pendekatan ini membuat implementasi menjadi lebih realistis, lebih rendah risiko, dan lebih mudah mendapatkan pembelajaran nyata.

Pola pikir “mulai aja dulu” juga menjadi pengingat bahwa transformasi yang baik tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki.

Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, dalam kesempatan yang sama pun menyoroti bahwa transformasi HR dan ketenagakerjaan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi.

“Masa depan ketenagakerjaan tuh harus high tech, tapi juga jangan lupa harus deeply human,” kata Sawitri.

Menurutnya, masa depan HR tak hanya soal memakai AI, tapi juga soal bagaimana menggabungkan teknologi, data, komunikasi, dan judgment manusia untuk membangun perusahaan yang lebih siap menghadapi perubahan.

“Ini menjadi sangat relevan bagi perusahaan yang ingin bertumbuh secara berkelanjutan di tengah dinamika dunia kerja saat ini,” pungkasnya.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button