Tren

Amnesia karena Stres Parah, Pria Jepang Pulih Usai Ganti Pekerjaan

TopCareer.id – Seorang pria di Jepang mengalami amnesia gara-gara stres bertahun-tahun. Namun, ingatannya kembali setelah mendapat pekerjaan baru yang lebih ringan.

Kasus ini dimuat dalam jurnal BMJ di tahun 2019. Amnesia yang dialami pria 40 tahun itu tidak terjadi karena cedera kepala, tapi akibat peristiwa traumatis atau karena pengalaman yang penuh tekanan.

“Amnesia disosiatif menyeluruh ditandai dengan hilangnya ingatan episodik autobiografis seseorang secara tiba-tiba, tanpa disertai kerusakan organik pada otak,” tulis laporan tersebut, mengutip IFL Science, Jumat (23/10/2026).

“Kondisi parah ini biasanya dipicu oleh tekanan psikologis atau trauma dan sebelumnya dikenal sebagai amnesia psikogenik,” laporan tersebut menulis.

Kejadian ini dicatat para peneliti di departemen psikiatri Rumah Sakit Universitas Hokkaido, Jepang. Pasien yang tidak diungkap namanya itu besar di Sapporo dan digambarkan sebagai orang yang lembut dan tertutup.

Beberapa tahun sebelum dirawat, pria itu punya bisnis toko buku. Namun, usahanya bangkrut.

Pasien tersebut kemudian mengikuti pelatihan kejuruan untuk mencari pekerjaan baru. Sayangnya, hingga pelatihan hampir berakhir, ia belum juga mendapatkan pekerjaan.

Di hari terakhir pelatihan, pria itu tiba-tiba kehilangan ingatan tentang identitas dan pengalaman hidupnya. Dia bahkan tidak mengenali namanya sendiri. Seorang teman yang menemukannya di jalan lalu mengantarkannya kembali ke keluarga.

Baca Juga: Jepang Longgarkan Batas Lembur, Kasus Karoshi Disorot Lagi

Pemeriksaan di rumah sakit tidak menunjukkan kerusakan otak signifikan. Namun, dokter menemukan penurunan aliran darah di bagian ventral kanan lobus temporal, salah satu wilayah otak yang terkait dengan fungsi memori.

Hasil pemeriksaan lain menunjukkan kemungkinan adanya sedikit penurunan fungsi kognitif. Namun, kemampuan memori kerja pria tersebut secara umum masih berfungsi.

Pasien lalu didiagnosis mengalami amnesia disosiatif yang disertai episode depresi ringan, serta mendapat pengobatan dengan obat golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).

Empat bulan kemudian, pasien boleh pulang dari rumah sakit. Namun, ingatannya belum pulih.

Kondisinya semakin sulit karena hubungannya dengan sang ayah memburuk. Konflik tersebut, yang saat itu hanya diketahui oleh ayahnya, membuatnya tidak bisa kembali ke rumah keluarga.

Pria itu akhirnya tinggal di sebuah rumah bersama atau fasilitas hunian komunal. Di situ, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah kantor kecil. Selama enam tahun sepuluh bulan, pria tersebut tetap bekerja dalam kondisi amnesia disosiatif.

Setelah bertahun-tahun menjalani kondisi tersebut, pria itu memutuskan berganti pekerjaan ke pekerjaan yang lebih ringan, dengan jam kerja hanya beberapa jam sehari.

“Dua minggu setelah memulai pekerjaan baru ini, ia mengingat kembali setiap detail kehidupannya,” tulis tim peneliti di laporannya.

Baca Juga: Penduduk Jepang Menyusut, Apa Dampaknya untuk Negara?

Mereka menyebut, pria itu ingat pernah ingin meninggal setelah pelatihan kejuruan selesai dan telah mengonsumsi obat secara berlebihan di hari terakhir pelatihan.

“Mereka menambahkan bahwa pria tersebut menyatakan dirinya kehilangan seluruh ingatan autobiografis dan episodik setelah terbangun,” kata para peneliti.

Pemeriksaan lanjutan menunjukkan, gangguan aliran darah yang sebelumnya ditemukan telah pulih. Namun, para peneliti tidak dapat memastikan kapan tepatnya kondisi tersebut membaik.

Mereka juga mengakui bahwa sulit membedakan ingatan yang benar-benar berasal dari pengalaman masa lalu dengan ingatan yang terbentuk melalui pembelajaran atau imajinasi setelah seseorang mengalami amnesia.

Namun, tim peneliti yakin amnesia yang dialami pria tersebut memang telah pulih.

Meski ingatannya pulih setelah pindah ke pekerjaan yang lebih ringan, peneliti menegaskan kasus ini belum cukup untuk menyimpulkan kaitan antara beban kerja dan pemulihan amnesia.

Laporan ini menambah bukti ilmiah tentang amnesia disosiatif, serta menyoroti perlunya penelitian yang lebih terarah. “Laporan longitudinal yang mengamati perjalanan alami amnesia disosiatif menyeluruh masih sangat jarang,” tulis peneliti.

Mereka menambahkan, penting untuk memastikan apakah pemulihan amnesia disosiatif dan pemulihan aliran darah otak berlangsung secara bersamaan, bahkan ketika amnesia telah bertahan dalam waktu lama.

Banner Loker

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button