Tren

Cerita Perusahaan Jepang Beri Bonus Cuti buat Karyawan Non-Perokok

TopCareer.id – Sebuah perusahaan pemasaran di Jepang punya cara unik untuk mendorong karyawannya yang perokok berhenti merokok.

Cerita ini terjadi pada 2017 silam, di mana karyawan non-perokok di Piala Inc, Tokyo, mendapat tambahan cuti enam hari setiap tahunnya.

Saat itu, CEO Takao Asuka menerima keluhan dari karyawan non-perokok yang mengetahui bahwa banyak perokok turun dari kantor mereka di lantai 29, untuk merokok selama 15 menit.

Ini membuat para karyawan non-perokok menilai kebiasaan itu membuat mereka harus bekerja lebih lama daripada para perokok.

Baca Juga: Penduduk Jepang Menyusut, Apa Dampaknya untuk Negara?

Akhirnya, Asuka pun memberikan kebijakan berupa tambahan cuti enam hari setahun bagi karyawan yang tidak merokok. Aturan ini mulai berlaku pada September 2017 dan mendapatkan respon positif.

Bahkan, karyawan yang merokok pun mulai tergerak untuk tidak merokok demi mendapatkan bonus cuti tersebut.

“Saya berharap dapat mendorong karyawan untuk berhenti merokok melalui insentif, bukan hukuman atau paksaan,” kata Asuka, dikutip dari BBC, Selasa (1/9/2026).

Dikutip dari World Economic Forum, New York Times kala itu menyebut bahwa sekitar 35 persen karyawan Piala adalah seorang perokok.

Dibandingkan dengan banyak negara maju lain, pekerja Jepang dikenal punya jam kerja yang panjang dengan sedikit kesempatan untuk menikmati waktu pribadi. Tidak jarang karyawan bekerja 12 jam sehari secara rutin.

Baca Juga: Dapat Rp 3,3 Miliar dari Investasi, Pria Jepang Ini Masih Kerja Jadi Petugas Kebersihan

Sejak era 1970-an, Jepang juga menghadapi fenomena yang dikenal sebagai karoshi atau “kematian akibat terlalu banyak bekerja”.

Fenomena ini merujuk pada kematian akibat jam kerja berlebihan, termasuk kasus bunuh diri maupun serangan jantung atau stroke yang dipicu oleh beban kerja ekstrem.

Sebuah laporan pada 2016 yang meneliti kasus karoshi dan penyebab kematiannya menemukan lebih dari 20 persen dari 10.000 pekerja Jepang yang disurvei mengaku bekerja lembur setidaknya 80 jam per bulan.

Keputusan Asuka memberikan tambahan waktu libur saat itu menjadi semakin menarik, karena Jepang dikenal cukup longgar terhadap kebiasaan merokok.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button