Gelombang PHK Akibat AI Mulai Terasa di AS
TopCareer.id – Akal imitasi (AI) disebut sebagai salah satu penyebab maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS).
Menurut laporan Challenger, Gray, & Christmas, selama tujuh bulan pertama di 2025, meningkatnya adopsi AI generatif oleh perusahaan swasta menyumbang lebih dari 10 ribu PHK.
Perusahaan outplacement itu juga menyebut AI sebagai salah satu dari lima faktor utama penyebab PHK di tahun 2025.
“Industri ini sedang mengalami transformasi akibat kemajuan AI dan ketidakpastian terkait visa kerja, yang turut memicu pengurangan tenaga kerja,” tulis laporan mereka, dikutip dari CBS News, Jumat (8/8/2025).
Melonjaknya PHK di AS tahun ini memicu kekhawatiran baru tentang anjloknya perekrutan.
Data ketenagakerjaan AS terbaru pada Jumat melaporkan, perusahaan hanya menambahkan 73 ribu lapangan kerja di bulan Juli, jauh di bawah perkiraan analis.
Baca Juga: Induk Perusahaan Platform Loker Indeed Bakal PHK 1.300 Karyawan
Data Challenger, Gray, & Christmas mencatat, sepanjang Januari sampai Juli 2025, perusahaan-perusahaan sudah mengumumkan lebih dari 806.000 PHK di sektor swasta.
Dari seluruh PHK tersebut, industri teknologi mencatatkan jumlah tertinggi.
Perusahaan swasta di sektor teknologi mengumumkan lebih dari 89 ribu PHK, naik 36 persen dibandingkan tahun lalu. Laporan tersebut menyebut, sejak 2023, lebih dari 27.000 PHK telah dikaitkan langsung dengan kemunculan AI.
Lowongan kerja untuk posisi entry-level di bidang korporat yang biasanya ditujukan untuk lulusan baru, jadi yang paling terdampak AI. Menurut platform karier Handshake, angkanya turun 15 persen dalam setahun terakhir.
Handshake menyebut, dalam dua tahun terakhir, terjadi peningkatan 400 persen dalam penggunaan kata “AI” dalam deskripsi pekerjaan.
Baca Juga: Lonjakan Adopsi AI Generatif Tantang Keamanan Siber Perusahaan
Meski begitu, Challenger, Gray & Christmas juga menyebut faktor yang berdampak pada pasar kerja di AS tak cuma AI.
Tahun ini, lebih dari 292 ribu posisi dihapus akibat kebijakan Department of Government Efficiency (DOGE), inisiatif penghematan anggaran federal yang dipimpin oleh Elon Musk.
“Kami melihat pemotongan anggaran federal oleh DOGE berdampak pada lembaga nirlaba dan sektor kesehatan, selain pemerintah,” kata Andrew Challenger, wakil presiden senior di Challenger, Gray & Christmas.
PHK juga meroket di sektor ritel karena tarif impor meningkatkan biaya operasional. Peritel sudah mengumumkan lebih dari 80 ribu PHK hingga Juli, naik hampir 250 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Ritel terdampak oleh tarif, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi yang menyebabkan PHK dan penutupan toko. Penurunan belanja konsumen yang berkelanjutan bisa memicu kerugian tambaha,” tulis laporan tersebut.



