Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Kamis, Januari 20, 2022
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Madani Film Festival 2019: Review Yomeddine, Wakil Mesir di Cannes dan Oscar

Sesuai formula road movie

Dari sini Yomeddine menunjukkan esensinya sebagai sebuah road movie alias film perjalanan. Jenis ini punya arti para tokohnya melakukan perjalanan dari satu titik ke titik lain. Sepanjang perjalanan itu, biasanya sang tokoh atau para tokoh menemukan makna hidup. Perjalanan fisik yang dilalui, berikut rintangan yang datang, membentuk jati diri mereka. Hal ini kemudian juga dimaknai bahwa perjalanan fisik tersebut adalah juga perjalanan batin si tokoh.

Baca juga: Review Gemini Man: Saat Ang Lee Menyia-nyiakan Teknologi

Yomeddine tak beranjak dari pakem itu. Kita melihat Beshay dan Obama mendapati berbagai halangan dan rintangan, mulai dari Obama masuk klinik karena terluka, uang dicuri orang, ditangkap polisi, si keledai mati kelelahan hingga akhirnya bertemu orang-orang baik dari kelas bawah Mesir.

Dalam ulasannya, Variety menyebut film ini dibesut sutradara debutan A.B. Shawky yang kurang familiar di jagat perfilman Mesir. Ia lulusan New York University dan tampak paham betul bahasa film Hollywood. Road movie ini, walau lahir dari tanah Mesir, terasa betul memakai rumus film Hollywood babak per babak.

Hasilnya, buat penonton awam, film ini sangat enak diikuti karena gaya penyajiannya yang terasa familiar. Film ini sukses mengharu biru tanpa terasa terlalu sentimentil. Porsinya pas. Ada sedih, ada lucu, ada juga sedikit adegan menegangkan. Usai nonton pun efek yang ditimbulkan sama: sebuah film yang memberi efek nyaman di dada, a feel good movie.

Dok. LA Times

Salahkah itu? Oh, tentu tidak. Sah-sah saja pakai bahasa khas Hollywood. Apalagi efek ikutannya pesan yang ingin disampaikan sineasnya jadi lebih mudah sampai ke penonton.

Salah satu yang mengena buat saya yakni di Mesir yang Islam dan non-Islam tak bisa dibedakan dari tampilan luar. Tokoh utama kita, Beshay seorang penganut Kristen. Namun, ia mengucap nama Tuhan dengan lapal yang sama dalam bahasa Arab.

Ia pun mengenakan pakaian khas Timur Tengah yang di sini identik hanya dipakai orang Muslim (yang ingin menunjukkan identitas keislaman lewat berpakaian ala Timur Tengah).

Bahkan saat istrinya meninggal, orang Muslim mengatakan si istri yang Kristen akan langsung masuk surga karena yang tak waras tak dihisab. Soal agama mereka berbeda dikesampingkan. Di sini, sulit membayangkan ada yang berkata demikian pada yang beragama berbeda.

the authorAde Irwansyah

Tinggalkan Balasan