Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Saturday, September 26, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

5 Gangguan Tidur yang Patut Kamu Waspadai

Ilustrasi (Dok. New York Post)

Topcareer.id – Banyak yang mengira kurang tidur tak mengakibatkan dampak yang begitu besar. Mengantuk di pagi hari atau tubuh terasa lemas, mungkin hal biasa. Namun jika terlalu lama dibiarkan dapat berakibat buruk bagi tubuh.

Gangguan tidur dapat ditandai dengan rasa mengantuk pada siang hari, kesulitan tidur pada malam hari, atau siklus tidur dan bangun yang tidak teratur. Gangguan tidur yang tidak ditangani dengan baik dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit lain, seperti hipertensi dan penyakit jantung.

Berikut 5 bentuk gangguan tidur yang patut diwaspadai.

Baca juga: Nyeri Punggung di Tempat Tidur, Bagaimana Mencegahnya?

Insomnia
Hampir setiap orang pernah dihinggapi insomnia. Insomnia adalah suatu kondisi seseorang tidak dapat tidur dengan nyenyak, dalam jangka pendek maupun kronis. Insomnia menjadi gangguan tidur yang paling umum yang disebabkan oleh berbagai faktor. Stres, perubahan zona waktu, jadwal istirahat yang berubah, atau kebiasaan begadang.

Kabar baiknya, insomnia kronis jarang terjadi. Insomnia dapat dengan mudah diatasi dengan cara menjaga kebersihan tempat tidur serta melemaskan badan agar terasa rileks menjadi salah satu penanganan insomnia.

Pengobatan medis menjadi cara terakhir dalam mengobati insomnia kronis. Sayangnya, seringkali pengobatan insomnia mengharuskan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan ketergantungan.

Baca juga: Karyawan Kurang Tidur? Ini Bahayanya

Apnea
Apnea merupakan gangguan tidur yang dapat mengancam nyawa jika tak segera ditangani. Dalam kondisi apnea, napas terasa berat atau bahkan berhenti di saat tidur. Napas berhenti selama 10-20 detik dan berlangsung selama 20-30 kali selama satu jam lebih.

Penderita apnea seringkali terbangun di tengah malam dengan kondisi terengah-engah. Tenggorokan terasa seperti dicekik atau tersedak, serta mendengkur kencang. Apnea tak hanya mengganggu kualitas tidur, namun juga membuat penderita kekurangan oksigen.

Apnea seringkali disebabkan oleh obesitas, amandel, atau penyumbatan jalur napas. Apnea dapat disembuhkan dengan cara diet, meninggikan posisi kepala di saat tidur, atau tidur menyamping. Penderita juga dapat menggunakan CPAP, alat yang berfungsi membuka jalur napas dan memompa udara secara kontinyu.

Baca juga: Tiga Cara Simpel Biar Tidur Malammu Berkualitas

Mendengkur
Siapa yang tidak terganggu dengan dengkuran? Mendengkur lebih menyiksa bagi teman tidur, daripada si penderita sendiri. Seringkali penderita tak menyadari dengkurannya.

Sama seperti pada gejala apnea, mendengkur disebabkan oleh penyempitan jalur napas, karena salah posisi tidur, kelebihan berat badan, atau kelainan pada tenggorokan. Penyempitan jalur napas membuat proses keluar-masuk napas tidak lancar dan menimbulkan suara yang kencang.

Untuk menghilangkan kebiasaan mendengkur, cobalah untuk tidur menyamping, membaringkan kepada di posisi lebih tinggi, atau diet.

Baca juga: Insomnia? Jangan Makan dan Minum Ini Menjelang Tidur

Restless Legs Syndrome (RLS) dan Periodic Limb Movement Disorder (PLMD)
RLS adalah kondisi dimana seseorang terus-menerus menggerakkan kaki atau tangan saat tidur. Gerakkan ini disebabkan adanya ketidaknyamanan posisi atau tempat tidur, gatal-gatal, atau rasa tak nyaman pada kaki atau lengan. Dengan menggerakkan badan, ketidaknyamanan tersebut dapat hilang namun hanya sementara hingga penderita kembali bergerak-gerak.

Hampir sama dengan RLS, penderita PLMD juga terus-menerus menggerakkan kaki dan tangannya selama tidur. Hanya saja, penderita PLMD bergerak tanpa sadar, bukan karena rasa tidak nyaman dan semacamnya. Penderita RLS secara otomatis mengidap PLMD, tapi penderita PLMD hanya sedikit yang mengidap RLS.

Keduanya disebabkan karena anemia, gangguan lambung, kehamilan, gangguan hormone tiroid, Parkinson, atau kecanduan alkohol.

Terapi, perubahan gaya hidup, serta suplemen nutrisi terbukti ampuh mengatasi RLS dan PLMD.

Baca juga: Berapa Lama Waktu Tidur Siang Ideal untuk Tubuh?

Narcolepsy
Tahun 2007, Joko Anwar menyutradarai film Kala yang mengisahkan seorang penderita narcolepsy bernama Janus. Hidupnya berantakan, bahkan istrinya menggugat cerai Janus karena seringkali tertidur saat tengah asyik bercinta.

Narcolepsy merupakan gangguang neurologis yang menyebabkan seseorang dapat tidur di manapun dan dalam kondisi apapun tanpa tanda-tanda mengantuk terlebih dulu. Gangguan ini disebabkan kurangnya hypocretin, zat dalam otak yang mengatur jadwal tidur dan bangun. Narcolepsy merupakan penyakit turunan yang dapat disembuhkan melalui serangkaian terapi yang meliputi konseling, pengobatan, serta perawatan behavioral. * Diolah dari Berbagai Sumber

the authorAde Irwansyah

Leave a Reply