Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Friday, October 2, 2020
redaksi@topcareer.id
Sosok

Tinggalkan Profesi Jurnalis Demi Jualan Kopi

Doddy Irawan mantan jurnalis musik yang terjun ke bisnis kopi. Foto: Topcareer.id/Wulan

Topcareer.id – Meninggalkan profesi jurnalis yang telah dijalani selama lebih dari 10 tahun untuk terjun ke bisnis kopi merupakan sebuah keberanian.

Begitulah yang dilakukan Doddy Irawan (40 tahun) pemilik usaha kopi “Yuenmi Coffee”. Meski tak sepenuhnya meninggalkan profesinya sebagai seorang jurnalis, namun bagi pria yang akrab disapa Edo ini, merasa hatinya lebih terpanggil untuk menggembangkan bisnis kopi yang telah ia rintis sejak 1 September 2018.

Sementara di luar sana bisnis kopi bak jamur di musim penghujan, namun itu tak membuat nyalinya kendur.

“Setiap orang punya rezekinya masing-masing. Saya all out aja dulu dengan style saya sekarang. Kalau melulu sibuk memikirkan persaingan. Jualannya kapan?”ucap pria tiga anak ini.

Baca Juga: Tips Untuk Tingkatkan Penjualan Kedai Kopi Kamu

Menariknya, sebelum terjun sebagai pengusaha kopi, Edo bukan pecinta kopi. Dulu ia hanya suka dengan kopi warung alias kopi sachet. Bahkan pertama kali mencicip kopi brewing, alisnya mengeryit karena lidahnya tak terbiasa.

Yuenmi Coffee. Foto: Topcareer.id/Wulan

“Dulu saya lebih suka kopi sachet, bukan kopi yang disajikan dengan berbagai cara itu. Bahkan dulu saya sebel kalau ada orang yang minum kopi pakai cara aneh-aneh. Sok-sok banget sih mau minum kopi mesti pakai peralatan ini itu, toh di minum-minum juga. Tapi setelah saya mencoba membuat sendiri, ehh tenyata nikmat juga ya”tutur Edo.

Dari situlah kemudian Edo mengawali bisnisnya. Ia pertama kali memulai bisnisnya dengan berjualan kopi bubuk Temanggung. Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang kopi dan cara membuat kopi yang enak, ia pun berguru pada banyak orang. Tak cukup disitu, sarjana sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Andalas ini mengambil kelas barista bersertifikat.

“Akhirnya saya tahu banyak tentang kopi. Dan semakin saya belajar tentang kopi, saya kian tertantang untuk menciptakan resep kopi dari banyak varian kopi”ujarnya.

Baca juga: Berapa Gelas Ideal Minum Kopi untuk Kesehatan?

“Saya membuat kopi itu berdasarkan selera orang. Lebih banyak yang custom. Karena kembali lagi ke habit ya. Mereka yang biasa suka manis, pasti gak suka yang kopi pahit. Dan sebaliknya”tambahnya

Konsekuensinya ialah, Edo harus terus mencoba menemukan resep dan komposisi yang pas sesuai dengan selera masing-masing pelanggannya. Sampai akhirnya kini ia telah memiliki 12 varian kopi yang dijual, dari sebelumnya hanya satu yakni kopi Temanggung.

“Robusta itu ada Gayo, Temanggung, lampung dan Cisadane. Arabika: Gayo, Kerinci, Garut, Kopi Preanger, Bali Kintamani, Bajawa, Flores,dan Toraja Sapan”jelas Edo

Saat ini kopi kekinian buatan Edo, adalah cold brew, dan kopi susu gula aren. Dengan pilihan rasa latte original, hazelnut, pandan, tiramisu, banana, dan butterscotch.

“Kopi di pasaran banyak dibuat dengan SKM (susu kental manis). Nah SKM itu kan bukan susu tapi gula. Dan gula itu kan kurang baik. Masak sih saya menyajikan minuman yang tidak sehat. Akhirnya saya mencari apa yang membuat sweet tapi sehat. Akhirnya ketemu lah gula aren.”ujarnya.

Silaturahmi 999 Pintu.

Bisnis Kopi Edo terbilang unik, karena ia lebih memilih memasarkan kopinya dengan cara ‘ngider'(keliling) sambil mengandalkan kekuatan silaturahmi, dibandingkan membuka lapak secara online. Meski diakuinya pemasaran melalui online dapat menjangkau lebih luas pelanggan. Tapi itu tak dilakukannya.

“Intinya kenapa saya tidak memilih online, karena saya tuh gak mau ngeberatin konsumen dengan ongkir. Kenapa sih gak saya saja yang nganter. Untuk minum kopi saya tuh gak perlu mahal. Kalau perlu langsung ketemu dengan saya. Satu botol 250 ml Yuenmie Coffee saya jual 15.000 hingga 18.000” katanya promosi.

Dibalik cara pemasaran ‘ngider’ (keliling) yang dilakukan Edo, ada sebuah filosofi jawa yang diikutinya, sekalipun dirinya berdarah Padang. Bahwa pertemuan adalah sebuah cara untuk menjaga silaturahmi.

Baca juga: Meeting di Kafe, Solusi Atasi Kebosanan di Kantor

“Banyak kemudahan yang saya dapat dari nganter langsung sambil silaturahmi. Dari yang tadinya gak mungkin menjadi mungkin. Trus sesuatu yang tadinya gak pernah terpikirkan menjadi sebuah pekerjaan. Misalnya saat ketemu pelanggan, ngobrol, cerita, tiba-tiba ada peluang pekerjaan seperti pekerjaan copy writing, media relations, dan sebagainya.”ujar Edo.

Memasarkan kopi dari rumah ke rumah, pasar ke pasar, mal ke mal, hingga kantor ke kantor semua dilakoni Edo berbekal motor bebek “Jupiter Tempur” tahun 2005 kesayangannya. Hingga kemudian tercetus ide untuk membuat sebuah hastag Silaturahmi 999 pintu. Hingga wawancara ini berlangsung menurutnya telah ada 800 titik.

Kegigihan Edo telah membuahkan hasil. Belum ada 2 tahun, bisnisnya kian meningkat dan memberi hasil yang menggembirakan. Kepada Topcareer.id , mantan jurnalis musik ini mengaku per bulan meraup omzet rata-rata 5-6 juta rupiah. Namun seiring bertambahnya varian kopi bubuk dan kopi ready to drink penjualan pun menunjukkan hasil yang signifikan.

“Alhamdulilah dari hasil kopi saya bisa punya tabungan dan penghasilan lebih dari cukup.”pungkas Edo.

the authorRetno Wulandari

Leave a Reply