Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Thursday, September 24, 2020
redaksi@topcareer.id
Profesional

Ketika Merawat Pasien Covid-19 Jadi Jalan untuk Berbakti pada Bangsa

Tenaga medis rawat pasien Covid-19. (dok. istimewa)

Topcareer.id – “Dalam surat edaran itu, ada yang bunyinya gini ‘Ini saatnya berbakti buat bangsa.’ Nah kata-kata itu jadi merasa terpanggil buat ikut Satgas Covid-19,” kata Sri Fujiyati, salah satu perawat pelaksana di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Perempuan yang akrab disapa Puji ini menjadi Satgas Covid-19 atau tenaga medis yang berurusan langsung dengan pasien-pasien Covid-19/terduga Covid-19 terhitung mulai April hingga Juni 2020.

Ia bercerita kepada Topcareer.id, melalui sambungan telepon pada Kamis (13/8/2020) bahwa ketika awal-awal Covid-19 masuk ke Indonesia, Puji ingin sekali mendaftarkan diri menjadi relawan Satgas Covid-19, di mana ditugaskan di rumah sakit (RS) yang hanya ditunjuk pemerintah saja, kala itu.

Namun, sayang yang dibutuhkan adalah perawat atau tenaga medis dengan pengalaman diutamakan untuk ruangan ICU. Keinginannya gagal.

Baca Juga: Keluh Kesah Perawat di Masa Pandemi yang Tak Terelakkan

Hingga seiring waktu, kasus Covid-19 kian bertambah dan membuat RS di bawah naungan pemerintah diwajibkan menyediakan ruangan untuk pasien Covid-19. Kesempatan Puji untuk berbakti pada bangsa pun seolah terbuka.

“Ketika pandemi berjalan agak lama, setelah itu ada surat edaran bahwa yang namanya jadi Satgas Covid-19 suatu kewajiban buat tenaga medis, jadi mau nggak mau ketika pemerintah menunjuk suatu instansi, harus ada ruangan buat covid, bagaimana caranya tenaga harus tersedia,” kata Puji.

Dari situ, ia memulai perjuangannya 3 bulan merawat pasien Covid-19 dan terduga Covid-19. Penugasan kala itu juga berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh instansi kesehatan.

“Nggak semuanya kebagian jadi Satgas Covid-19, ada penilaiannya. Mereka memilih satgas itu (sesuai instansinya) melihat usia, riwayat sakit, tinggal dengan siapa, sama pelatihan yang pernah diterima apa aja, pengalaman kerja berapa lama,” jelas Puji.

Hal menyesakkan dan menyedihkan saat merawat pasien Covid-19

Ketika ditanya hal apa yang menakutkan dan membuat sedih selama menjadi Satgas Covid-19, Puji menjelaskan panjang lebar soal stigma masyarakat yang menganggap Covid-19 seperti sebuah momok mengerikan.

Baca Juga: Perawat RSPI Cerita Pengalaman Tangani Pasien Covid-19

Kala itu, ia masih sering menemui keluarga pasien yang protes akan protokol perawatan di masa pandemi. Banyak keluarga cemas jika anggota keluarganya teridentifikasi Covid-19, maka mereka akan dijauhi dan dikucilkan oleh tetangga sekitar.

Hal yang menyesakkan dada lainnya bagi Puji sebagai tenaga medis, adalah teori konspirasi yang beredar soal Covid-19.

“Itu sebenarnya sedih sih. Siapa sih yang nggak mau pandemi cepat berakhir. Kita juga maunya bebas pergi ke mana-mana. Kita, para medis dapat edaran dari RS nggak boleh pulang kampung, tetap harus kerja. Banyak senior yang nggak ketemu keluarganya,” tutur Puji yang 5 tahun berprofesi sebagai perawat.

“Bayangin gitu lho, orang-orang lain bisa kerja di rumah. Nah kita (tenaga medis) benar-benar kerja di lapangan, kontak sama pasien, kita udah berisiko paling tinggi. Nyesek aja orang bilang macam-macam konspirasi. Nggak ada yang mau kondisi gini (pandemi),” lanjutnya.

Ia berpesan agar masyarakat patuh dengan protokol kesehatan yang telah dianjurkan oleh pemerintah, menjaga kebersihan, sering-sering cuci tangan, demi mencegah penyebaran Covid-19 meluas di Indonesia, khususnya.

Puji juga memberi semangat pada semua tenaga medis yang kini tengah berjuang di tengan pandemi. “Aku ngerasa nggak bisa ketemu orangtua di kampung, sedih. Kita pasti bisa lewatinnya, nggak cuma buat tenaga medis, tapi buat orang-orang lainnya. Semoga pandemi cepat selesai.”**(RW)

Leave a Reply