Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Minggu, September 19, 2021
redaksi@topcareer.id
Kerja Dari Rumah

4 Cara Mengatasi Impostor Syndrome Saat WFH

Sumber foto: thriveglobal.com
  • Buat rencana keseimbangan kerja yang sesuai
    Banyak pekerja jarak jauh cenderung bekerja terlalu lama sampai melewati batas waktu, dan berjuang untuk memisahkan waktu kerja dari waktu pribadi. Dalam pola umum impostor syndrome yang diciptakan oleh peneliti Jaruwan Sakulku dan James Alexander, seseorang akan mulai dengan perasaan cemas ketika dia menerima tugas baru, diikuti dengan persiapan yang berlebihan dan akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu serta tenaga untuk sebuah proyek. Ketika proyek berhasil diselesaikan, alih-alih mengakui pekerjaan yang dilakukan dengan baik, individu tersebut akan tumbuh dengan keyakinan yang salah bahwa proyek tersebut gagal karena dia merasa membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikannya. Pikiran tentang tugas selanjutnya dapat menyebabkan putaran kecemasan lain.

Solusi: Buatlah rencana keseimbangan kerja atau hidup yang efektif dan sesuai untuk kamu. Tentukan waktu di mana kamu paling produktif dan pilih lokasi kerja ternyaman. Jika pembatasan akibat pandemi sudah dilonggarkan, kamu bisa memilih kedai kopi favorit kamu atau mungkin perpustakaan lokal. Daripada berfokus pada waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas, fokuslah pada tugas itu sendiri. Cobalah membuat daftar proyek yang kamu rencanakan untuk diselesaikan dalam minggu tertentu.

Baca Juga: Ingin WFH Lancar Jaya? Terapkan 5 Tips Ini!

  • Asumsikan orang lain memiliki niat baik dengan komunikasi
    Di lingkungan kerja yang jauh, komunikasi membutuhkan upaya yang signifikan. Karena sulit untuk menguraikan nada dalam email, pesan whatsapp group, dll. Mereka yang memiliki impostor syndrome akan kesulitan untuk menginternalisasi masukan yang baik dan bahkan mungkin memikirkan secara berlebihan kritik yang dirasakan. Mereka mungkin secara keliru menafsirkan nada suara rekan kerja sebagai hinaan atau kasar.

Solusi: Praktik terbaik adalah selalu menganggap rekan kerja atau atasan kamu memiliki niat baik saat berkomunikasi. Bahkan dalam alat obrolan seperti WA group di mana emoji dan gif dapat ditambahkan ke percakapan. Kamu juga bisa membaca nada suara rekan kerja secara berbeda dari yang kamu lakukan melalui telepon atau video call. Menganggap niat baik dapat membantu menghilangkan kekhawatiran tentang komunikasi. Jika masih merasa kesulitan, jangan pernah takut untuk meminta rekan kerja atau atasan untuk terhubung melalui video dan mengklarifikasi maknanya.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Tinggalkan Balasan