Rektor UMY: Pendirian URI Perlu Kajian Komprehensif

Lebih baik perkuat prodi STEM yang ada
Sebagai alternatif, Nurmandi menyarankan pemerintah memperkuat program studi STEM yang sudah berjalan di berbagai perguruan tinggi.
Penguatan bisa dilakukan dengan meningkatkan fasilitas laboratorium, pendanaan penelitian, beasiswa, kolaborasi dengan industri, serta pemerataan dosen berkualifikasi.
Menurut Nurmandi, pendekatan itu lebih efisien karena memanfaatkan institusi, tenaga akademik, dan sistem penjaminan mutu yang telah tersedia.
Selain itu, pemerintah juga dapat membangun konsorsium antarkampus untuk mengembangkan program strategis tanpa harus mendirikan organisasi baru dari awal.
“Daripada membangun institusi serupa dari awal, pemerintah dapat memperkuat program studi STEM yang telah tersedia,” kata Nurmandi.
Baca Juga: Pendaftar Perguruan Tinggi Menurun, Pertanda Anjloknya Lapangan Kerja
Menurutnya, dengan sudah adanya infrastruktur, dosen, dan tata kelola, anggaran dapat lebih banyak diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian.
Nurmandi menegaskan, pemerintah bisa saja mempertimbangkan pembentukan URI, asalkan mampu menunjukkan kebutuhan yang belum bisa dipenuhi perguruan tinggi eksisting.
Kajian harus dilakukan untuk melihat kebutuhan tenaga kerja, peta program studi nasional, proyeksi jumlah mahasiswa, kesiapan dosen, kebutuhan anggaran, serta manfaat yang ingin dihasilkan.
Menurut Nurmandi, setiap kebijakan pendidikan harus dimulai dari persoalan yang hendak diselesaikan.
“Setelah kebutuhannya jelas, barulah ditentukan apakah solusinya harus berupa pendirian universitas baru atau cukup melalui penguatan institusi yang sudah berjalan,” pungkasnya.



