TopCareer.id – Kerja sama yang selama ini dianggap menjadi kunci keberhasilan sebuah tim ternyata tidak selalu bertahan lama.
Sebuah riset mengungkap bahwa semangat bekerja sama dapat memudar secara perlahan, bahkan ketika semua kondisi sebenarnya mendukung.
Riset yang dimuat di jurnal Nature ini melakukan studi lapangan berskala besar pada sebuah lembaga keuangan mikro di Sierra Leone. Lembaga ini memberikan pinjaman kepada kelompok, bukan individu.
Seluruh anggota kelompok bertanggung jawab bersama atas utang tersebut. Jika satu orang gagal membayar cicilan, seluruh kelompok kehilangan akses untuk memperoleh pinjaman berikutnya.
Tim peneliti pun melacak kebiasaan pembayaran 7.108 peminjam yang tergabung dalam 1.589 kelompok.
Selama lima tahun, peneliti menganalisis 47.931 pembayaran individu untuk mengetahui kapan dan mengapa seseorang mulai berhenti berkontribusi.
Mereka juga melakukan wawancara mendalam terhadap 73 peminjam, untuk memahami pengalamannya secara langsung.
Untuk melihat apakah sebuah kelompok mengalami kesulitan karena peminjam kekurangan uang atau karena anggota mulai kehilangan semangat bekerja sama, ada dua indikator yang diamati.
Dua indikator tersebut yaitu total jumlah pembayaran yang berhasil dilakukan kelompok, lalu kecepatan kelompok dalam melunasi pinjaman.
Baca Juga: Siapa yang Lebih Baik dalam Kolaborasi Kerja, Laki-Laki atau Perempuan?
Hasil riset menunjukkan pola punctuated decline atau penurunan yang diselingi pemulihan. Artinya, kerja sama tidak runtuh tiba-tiba. Kerja sama menurun bertahap lalu pulih mendadak sebelum turun lagi.
Dalam satu siklus pinjaman yang biasanya berlangsung beberapa bulan, tingkat kerja sama awalnya tinggi, tetapi kemudian terus menurun.
“Tingkat kerja sama dimulai dari level tinggi, tetapi secara bertahap menurun karena motivasi dan upaya anggota kelompok untuk bekerja sama ikut berkurang,” tulis peneliti, mengutip Phys.org, Senin (6/7/2026).
Setelah pinjaman lunas dan siklus pinjaman baru dimulai, tingkat kerja sama kembali meningkat tajam.
Para peneliti mencatat, ini terjadi karena sebelum pinjaman baru diberikan, seluruh anggota kelompok kembali diingatkan mengenai tanggung jawab mereka.
“Pemulihan tajam terjadi saat pinjaman dimulai lagi dan para nasabah disadarkan lagi akan tanggung jawabnya untuk bekerja sama, meski anggota dan struktur tantangan pada dasarnya tidak berubah,” tulis peneliti.
Studi lebih lanjut menjelaskan bahwa menurunnya kerja sama lebih banyak dipengaruhi oleh faktor perilaku, bukan karena kemampuan membayar para peminjam yang memburuk.
Baca Juga: Riset UGM: Jadi Workaholic Juga Bisa Bikin Bahagia
Padahal, para peminjam berada dalam kondisi yang cukup mendukung untuk berhasil. Mereka memiliki insentif yang jelas untuk terus membayar pinjaman. Namun, seiring waktu motivasi mereka perlahan memudar.
Dalam wawancara, para responden mengaku mereka atai anggota kelompok lainnya menjadi semakin santai atau bahkan keras kepala.
Keinginan seseorang untuk membayar bagian utangnya sendiri tetap relatif tinggi karena didorong kepentingan pribadi.
Sebaliknya, kesediaan membantu membayar bagian anggota kelompok lain menurun jauh lebih cepat.
Berdasarkan temuannya, para peneliti pun menyimpulkan bahwa kerja sama bukanlah kondisi yang bersifat tetap, namun proses yang terus berubah.
Mereka menilai, kerja sama pada dasarnya rapuh dan secara alami cenderung melemah seiring waktu. Karena itu, perlu upaya aktif untuk terus memeliharanya agar tidak mengalami penurunan.






