TopCareer.id – Survei menunjukkan bahwa lebih dari setengah karyawan di Indonesia tidak punya dana darurat. Hal ini pun dinilai dapat berdampak pada bisnis yang dijalankan perusahaan.
Menurut survei platform pengelolaan keuangan pribadi Finetiks, 56 persen karyawan profesional tidak punya dana darurat yang memadai. Sementara, 72 persen mengaku kondisi finansialnya berdampak langsung pada performa kerja.
Temuan ini memperkuat urgensi bagi perusahaan untuk memandang financial wellness atau kesehatan finansial karyawan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekedar benefit tambahan.
Cameron Goh, CEO Finetiks, mengatakan bahwa kesehatan finansial karyawan tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pribadi saja, namun juga berisiko bagi bisnis.
“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan,” kata Cameron.
Hal ini membuat kesehatan finansial karyawan bisa menjadi risiko bisnis “tersembunyi” yang dampaknya signifikan.
Survei juga mencatat, tekanan finansial sudah jadi makanan sehari-hari karyawan. Sekitar 58 persen responden mengaku harus menunda kebutuhan penting akibat keterbatasan arus kas.
Selain itu, 51 persen mengaku masih punya utang konsumtif yang aktif termasuk paylater, kartu kredit, dan pinjaman online.
Baca Juga: Skor Kesehatan Finansial Turun, Anak Muda RI Sulit Punya Dana Darurat
Tingginya kesadaran akan masalah ini tercermin dari 93 persen responden yang menyatakan kebutuhan akan program financial wellness dari perusahaan.
Cameron menegaskan, dampak dari tekanan semacam ini tidak bisa diabaikan. Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung sulit berkonsentasi, mengambil keputusan, dan berkolaborasi secara optimal.
“Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena ‘presenteeism‘, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif,” kata Cameron.
Pada jangka panjang, ini juga berpotensi meningkatkan risiko turnover yang menciptakan biaya produktivitas tersembunyi yang tidak terlihat dalam laporan kinerja, dan tidak tercapainya target perusahaan karena rendahnya produktivitas.
Survei lintas industri ini dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026 dan mencakup sektor teknologi, pendidikan, media digital, kreatif, dan fintech, serta mengungkap pola yang konsisten di sektor lainnya.
Di sektor kreatif, 100 persen responden mengaku mengalami stres finansial, sementara sektor pendidikan mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi sebesar 69 persen.
Sektor media digital juga menunjukkan tingkat tekanan yang tinggi dengan 74 persen responden terdampak.
Baca Juga: Bikin Stres, 1 dari 3 Karyawan di Asia Nggak Punya Tabungan Darurat
Bahkan di sektor fintech yang memiliki literasi keuangan relatif lebih baik, tekanan finansial tetap ditemukan. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup tanpa sistem dan kebiasaan finansial yang kuat.
Sementara sektor teknologi, sekitar 50 persen karyawan tercatat masih memiliki utang konsumtif aktif, terutama di kalangan milenial.
Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan terhadap financial wellness perlu bergeser dari sekadar edukasi menjadi solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Menurut Cameron, program yang efektif harus dapat mendorong perubahan perilaku finansial mulai dari pengelolaan cash flow, pembentukan dana darurat, hingga implementasi sistem tabungan otomatis dan pendampingan jangka panjang.
“Perusahaan yang mengintegrasikan financial wellness sebagai bagian dari strategi human capital akan memiliki keunggulan dalam menjaga produktivitas dan loyalitas karyawan di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks,” ujarnya.
Dengan membuat financial wellness sebagai bagian dari strategi human capital, perusahaan akan mendapatkan produktivitas yang meningkat, loyalitas karyawan yang lebih kuat, dan budaya kerja yang lebih sehat.






