TopCareer.id – Monash University dan para peneliti Indonesia mengembangkan perangkat kesehatan digital bernama Value-Based Digital Health Innnovation Canvas (VDHIC).
VDHIC dikembangkan oleh sembilan penerima program fellowship asal Indonesia dengan bimbingan peneliti kesehatan digital dari Monash University.
Inisiatif ini juga mendapat didukung pendanaan dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Pemerintah Australia melalui program Australia Awards Fellowships.
Perangkat ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan sistem kesehatan dan lingkungan regulasi yang kompleks di Indonesia, yang selaras dengan platform SATUSEHAT Kementerian Kesehatan Indonesia.
Mengutip siaran pers, Rabu (25/3/2026), VDHIC bisa jadi pedoman bagi rumah sakit maupun penyedia layanan kesehatan untuk mengimplementasikan inisiatif kesehatan digital.
Ada lima tujuan utama yang jadi fokus perangkat ini yaitu kesehatan populasi, pengalaman pasien, kepuasan penyedia layanan, efisiensi biaya, dan kesetaraan kesehatan.
Baca Juga: OIKN Buka Beasiswa S1 di Universitas Brawijaya, Simak Syaratnya
Juliana Sutanto, peneliti sistem informasi Fakultas Teknologi Informasi Monash University mengatakan, VDHIC mendorong perubahan dari pelaporan berbasis kepatuhan menuju kesehatan digital sehingga berdampak nyata.
“VDHIC membantu organisasi kesehatan, inovator, dan pembuat kebijakan di Indonesia untuk melampaui sistem kewajiban pelaporan data atau digitalisasi, menuju kesehatan digital berbasis nilai,” ujarnya.
Dia menambahkan, teknologi dan data menghadirkan manfaat nyata bagi pasien, tenaga medis, dan sistem kesehatan.
“Selain itu, perangkat ini juga menghadirkan kerangka acuan bersama yang menjembatani tujuan kebijakan, praktik klinis, dan implementasi teknis,” imbuh Juliana.
Perangkat ini menyajikan kerangka kerja yang jelas dan bertahap untuk memandu inovasi kesehatan digital, mulai dari mengidentifikasi masalah kesehatan hingga menghasilkan dampak yang dapat diukur.
Sembilan penerima Australia Awards Fellowship yang terlibat dalam riset ini terdiri dari anggota Kelompok Kerja Teknis Kemenkes Indonesia, serta tenaga medis dan peneliti dari berbagai wilayah di seluruh negeri.
Kelompok ini mengikuti program intensif bersama Monash University, yang mencakup kunjungan ke rumah sakit dan diskusi dengan para ahli kesehatan digital Australia.
Baca Juga: Monash University Indonesia Jadi Mitra Kampus Beasiswa Indonesia Bangkit
Wilayah Indonesia Timur, yang dianggap punya kapasitas sistem kesehatan dan infrastruktur digital terbatas, menjadi fokus utama proyek untuk memastikan perangkat mampu memenuhi beragam kebutuhan regional dan klinis.
“Bagi tenaga medis di Indonesia Timur, kesehatan digital harus mampu mengurangi beban dan meningkatkan mutu layanan bukan menambah kerumitan,” kata Arthur Mawuntu, neurologis asal sulawesi Utara, yang juga penerima Australia Awards Fellowship.
Sementara itu, Kemenkes menyatakan perangkat ini akan menjadi acuan dalam pengembangan kebijakan kesehatan digital yang sedang berlangsung.
Penasihat ahli teknologi kesehatan Setiaji menegaskan, inisiatif ini selaras dan melengkapi pendekatan regulatory sandboxing yang diterapkan oleh Kemenkes
“Indonesia sedang membangun jalur inovasi kesehatan digital yang bertanggung jawab melalui inovasi, uji coba industri, dan regulatory sandboxing,” ujarnya.
Para penerima Fellowship telah mempresentasikan toolkit yang disempurnakan kepada para penasihat Monash University pada Februari dan akan menyerahkan laporan akhir kepada Kementerian Kesehatan Indonesia.
VDHIC kemudian akan diintegrasikan ke dalam program sandbox Kementerian Kesehatan Indonesia.






