Profesional

Karyawan Resign Usai Lebaran, Bisa Jadi Momen Refleksi Perusahaan

Ilustrasi resign. Sumber foto: ShutterstockIlustrasi resign. Sumber foto: Shutterstock

TopCareer.id – Bukan hal yang asing jika seorang pekerja resign atau keluar dari pekerjaannya usai masa lebaran atau setelah Tunjangan Hari Raya (THR) cair.

Menurut Jobstreet by SEEK, tren pencarian kerja baru cenderung merangkak naik di periode ini. Momen tersebut juga kerap disertai gelombang pertimbangan ulang karier, termasuk keputusan untuk mengundurkan diri.

Menanggapi fenomena ini, Ria Novita, Talent Acquisition Manager, Jobstreet by SEEK mengatakan ada beberapa miskonsepsi yang terjadi di kalangan pemberi kerja.

Mengutip siaran pers, Senin (30/3/2026), Ria mengatakan bahwa meski pencarian kerja meningkat setelah masa liburan dan penerimaan THR, angka pengunduran diri pascalebaran sebenarnya tidak sebesar yang ditakutkan.

Baca Juga: Waspada, Scam Mengincar Uang THR Kamu!

“Fenomena resign sesudah Lebaran ini memang terjadi, akan tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan dibanding periode lainnya seperti akhir tahun atau setelah performance review yang biasanya berkaitan dengan promosi dan kenaikan gaji,” kata Ria.

“Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh. Jadi, pengunduran dirinya baru dilakukan sesudah THR diterima,” imbuhnya.

Dari sudut pandang etika dan regulasi, Ria menegaskan juga bahwa THR adalah hak mutlak karyawan atas kerja keras mereka dalam periode tertentu.

Menurut Ria, selama karyawan memenuhi ketentuan masa kerja dan mengikuti prosedur pengunduran diri yang berlaku di perusahaan, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, dan mendukung proses serah terima, resign usai THR cair masih bisa dipandang sebagai sesuatu yang sah dan etis.

Ria menambahkan, perusahaan pun harusnya bisa memanfaatkan momen resign usai lebaran sebagai bahan refleksi, ketimbang menganggapnya sebagai sebuah krisis SDM.

Baca Juga: THR Cair, Ini Tips Biar Tak Menyesal di Akhir

Menurutnya, jika dilihat dari kacamata perusahaan, setiap keputusan resign pasti membawa konsekuensi, baik berupa waktu maupun biaya untuk rekrutmen dan pelatihan.

“Namun, karena fenomena ini biasanya sudah diawali niat sejak jauh hari, hal ini tidak seharusnya menjadi ‘kejutan besar’ jika komunikasi antara karyawan dan atasan berjalan baik selama ini,” kata Ria.

Selain itu yang terpenting, perusahaan juga harus memahami alasan di balik keputusan resign, serta memperbaiki aspek-aspek krusial seperti jenjang karier, kompensasi, hingga budaya kerja.

“Dengan menyeimbangkan gaji yang kompetitif serta membangun lingkungan kerja yang memiliki tujuan (purpose) dan work-life balance yang sehat, tingkat turnover kedepannya bisa menjadi lebih sehat dan tidak hanya terkonsentrasi di satu periode saja,” pungkas Ria.

Leave a Reply