TopCareer.id – Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu lalu disorot usai disebut menjadi penyumbang terbesar kedua gas metana di dunia.
Temuan tersebut berdasarkan tangkapan satelit Carbon Mapper dan dimuat dalam daftar yang disusun Fakultas Hukum University of California untuk 25 tempat pembuangan sampah dengan produksi metana terbesar sepanjang 2025.
Posisi TPST Bantargebang hanya berada di bawah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina.
Hanifrahmawan Sudibyo, pakar biorefinery limbah hayati, energi berkelanjutan, dan teknologi penghilangan karbon dioksida menyebut, metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi pada naiknya suhu Bumi.
Dosen Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjelaskan, gas metana umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi.
Baca Juga: TPST Bantargebang Hanya Terima Sampah Residu Mulai 1 Agustus 2026
“Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” kata Hanif, mengutip laman resmi UGM, Selasa (19/5/2026).
Ia merinci, pembentukan metana dilakukan oleh arkea metanogenik, kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik.
Dalam proses tersebut, senyawa organik kompleks terlebih dulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida, yang kemudian dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.
Dalam kasus Bantargebang, saat terdapat tumpukan sampah organik dalam jumlah besar, akan terbentuk zona-zona yang minim oksigen, khususnya di bagian dalam dan bawah timbunan sampah.
Baca Juga: TPST Bantargebang Juara 2 Penyumbang Gas Metana Terbesar di Dunia
Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk areka metanogenik.
“Selama proses penguraian tersebut berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” kata Hanif.
Dia menambahkan, metana pada dasarnya merupakan bagian alami dari siklusi karbon di Bumi dan secara alami diproduksi dalam proses biodegradasi bahan organik.
Namun, masalah muncul saat emisinya meningkat secara berlebihan, akibat akumulasi limbah organik yang tidak terkelola dan tidak termanfaatkan secara optimal.
“Mengingat potensi pemanasan global metana lebih tinggi dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu, pelepasan metana dari TPA menjadi salah satu isu penting dalam pengendalian emisi gas rumah kaca,” kata Hanif.
Pemanfaatan gas metana sebagai sumber energi
Menurut Hanif, jika dilihat dari perspektif teknik kimia dan konversi energi, pemanfaatan gas metana dari TPA bisa jadi salah satu strategi untuk menekan emisi gas rumah kaca, sekaligus mendukung transisi energi yang lebih bersih.
Proses tersebut dilakukan melalui teknologi penangkapan gas metana (methane capture), misalnya dengan jaringan pipa vertikal maupun horizontal yang dipasang di area timbunan sampah, untuk mengumpulkan gas yang terbentuk di dalam landfill.
Hanif menjelaskan, gas metana yang terkumpul lalu dapat dialirkan menuju unit pemurnian maupun pembangkit listrik berbasis biogas untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Selain menerapkan methane capture, upaya pencegahan lain yaitu dengan pemilahan sampah dan mengurangi limbah organik yang masuk ke TPA.
Menurut Hanif, peningkatan konsumsi masyarakat tanpa diimbangi pengelolaan limbah yang baik malah akan meningkatkan beban TPA, baik dari sisi kapasitas maupun potensi pembentukan gas metana.
Baca Juga: Indonesia Salah Satu Penghasil Sampah Makanan Terbesar di Dunia
Karena itu, pemanfaatan metana sebagai sumber energi perlu diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, guna mendukung konsep ekonomi sirkular dan pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka panjang.
Hanif menilai, optimalisasi pemanfaatan gas metana di TPA tak bisa hanya dengan mengandalkan operator pengelola sampah maupun sektor industri semata.
Perlu dukungan lintas sektor mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga badan usaha penyedia energi seperti PLN, untuk membangun infrastruktur dan sistem pemanfaatan gas landfill secara terintegrasi.
“Tingginya potensi produksi metana di TPST Bantargebang dinilai dapat menjadi momentum evaluasi pengelolaan sampah nasional, khususnya dalam mendorong pengurangan emisi sekaligus pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan,” pungkas Hanif.






