Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Follow @topcareerid Instagram

SKILLS.ID

Saturday, November 23, 2019
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Asma Bisa Diobati di Puskesmas. Tapi Kenapa Belum Tertangani Maksimal?

Topcareer.id –  Sebanyak 4,5 persen dari populasi di Indonesia menderita penyakit asma dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032 penderita. Tapi sayangnya, masih ada kendala soal pengendalian dan pengobatan asma di pusat pelayanan kesehatan primer, Puskesmas.

Bahkan, survei dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan tahun 2015 mencatat bahwa penyakit paru-paru kronis jadi satu dari 10 penyebab kematian terbesar di Indonesia.

Astrazeneca bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Project Hope, dan Universitas Gadjah Mada melalui program Healthy Lung mengamati kesenjangan apa yang sebenarnya terjadi yang membuat pengendalian asma belum tertangani.

Berdasar hasil penelitian formatif yang telah dilaksanakan pada 2018 melalui program Healthy Lung, ada lima kesenjangan multidimensi dalam mendiagnosis pengobatan asma di tingkat Puskesmas. Kelimanya, yakni:

– Ketersediaan obat dan infrastruktur,

– kapasitas staf kesehatan dan pelatihan,

– implementasi SOP (standar operasional prosedur),

– edukasi pasien dan kepatuhan terhadap pengobatan,

– kepemimpinan tenaga medis oleh Asosiasi Medis.

Rizman Abudaeri, Direktur PT Astrazeneca Indonesia mengatakan, lewat perbaikan pelayanan asma di tingkat Puskesmas, biaya layanan juga semakin efisien. Jika pengobatan asma dilakukan di Puskesmas tanpa harus rujuk ke Rumah Sakit (RS) maka akan lebih terkontrol.

“Kenapa Puskesmas? Ada sekitar 10 ribu (Puskesmas) di Indonesia. Sementara, asma ini penyakit yang harus bisa ditangani oleh Puskesmas. Pusksemas dekat dengan rumah pasien, ketika pasien benar-benar membutuhkan. Sehingga diharap mampu berkontribusi pada pasien dan pada kesehatan di Indonesia,” kata Rizman di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Program intervensi yang sudah berjalan di 71 Puskesmas di Kota Bandung, Banjar, dan Bantul ini meliputi di antaranya, terkait ketersediaan infrastruktur, yakni melengkapi Puskesmas dengan Jet Nebullizer, setuju untuk menyediakan obat inhalasi.

Kemudian ada 508 staf kesehatan Puskesmas telah dilatih melalui Pelatihan Tata Laksana dan Edukasi Penyakit Asma. Juga memperbaharui SOP di 71 Puskesmas, buku panduan Edukasi, Komunikasi dan Konseling Asma untuk Pasien, serta mengadakan bimbingan klinis oleh dokter spesialis paru.

Country Representative of Project HOPE Indonesia, Agus Soetianto mengatakan hasil dari intervensi ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan pemerintah untuk menyediakan solusi bagi pengobatan asma di Puskesmas Indonesia.

“Project HOPE akan mengembangkan suatu ‘Project Learning’sebagai hasil dari program intervensi. Project learning akan mencakup tujuan intervensi, yaitu untuk meningkatkan status kendali asma di tingkat Puskesmas yang bertujuan untuk mengurangi angka rujukan pasien ke rumah sakit, dengan menunjukkan bahwa Puskesmas mampu mengobati pasien pada tindakan medis pertama,” terangnya. *

Editor: Ade Irwansyah

hildailhamil@gmail.com'

Leave a Reply