Find Us on Facebook

Instagram Gallery

Configuration error or no pictures...

SKILLS.ID

Subscribe to Our Channel

Tuesday, September 29, 2020
redaksi@topcareer.id
Lifestyle

Bernapas dengan Benar Bisa Tingkatkan Kualitas Hidup. Ini Manfaat dan Caranya

Topcareer.id – Bernapas dengan benar dapat memiliki efek transformatif yang sangat besar pada tubuh, dan inilah saatnya untuk membangun kekuatan dengannya.

Pandemi virus corona mungkin telah meningkatkan tren latihan pernapasan. Situasi dan kondisi saat ini memaksa semua orang untuk berhadapan dengan virus yang mempengaruhi sistem pernapasan.

Berikut ini manfaat dan cara bernapas dengan benar yang bisa mengubah hidup kamu dengan beberapa latihan sederhana yang bisa kamu lakukan mulai sekarang.

Baca Juga: 6 Fakta Unik tentang Otot yang Kamu Mungkin Belum Tahu

1) Mengurangi kecemasan
Napas kamu adalah cerminan langsung dari suasana hatimu. Jika kamu tenang dan rileks, napas kamu akan lambat, lama dan stabil. Sedangkan jika kamu cemas, napas kamu akan lebih cepat dan lebih dangkal. Bernapas dengan cepat dan panik hanya memperburuk situasi dan memicu respons tubuh untuk ‘hadapi atau lari’. Lain kali kamu merasa cemas berlebihan, coba tutup mata dan tarik napas dalam-dalam melalui hidung selama lima hitungan, lalu buang napas perlahan melalui hidung selama lima hitungan, dan ulangi sampai 10 kali jika perlu. Napas yang lambat dan berirama ini merangsang sistem saraf parasimpatis, yang pada gilirannya mengurangi detak jantung dan melemaskan otot dan pikiran.

2) Mengurangi stres
Stres tidak bisa dihindari, tapi kamu bisa ubah reaksi kamu terhadap pemicunya. Salah satu cara melakukannya adalah melalui respon relaksasi, teknik yang pertama kali dipelopori pada Tujuh Puluh di Sekolah Kedokteran Harvard oleh Dr. Herbert Benson. Hal ini dapat diperoleh dengan berbagai cara, termasuk meditasi dan yoga, tetapi faktor umum dalam semua teknik ini adalah pernapasan dalam. Lain kali kamu merasakan tingkat stres meningkat, letakkanlah satu tangan di perut kamu, dan tarik napas dalam-dalam melalui hidung selama empat hitungan, rasakan perut naik di tangan kamu, lalu buang napas dari hidung selama empat hitungan dan rasakan perut kosong sepenuhnya. Ulangi selama satu hingga dua menit.

3) Membantu tidur lebih nyenyak
Teknik pernapasan 4-7-8, dipelopori oleh Dr Andrew Weil, digambarkan sebagai ‘tranquliser alami untuk sistem saraf’ yang bekerja dengan membanjiri paru-paru dengan oksigen, menenangkan pikiran, dan mengurangi stres yang mungkin membuatmu sulit tidur. Saat di tempat tidur, buang napas sepenuhnya melalui mulut dengan membuat suara ‘wusss’, lalu tutup mulut kamu dan tarik napas melalui hidung selama empat hitungan. Tahan napas kamu selama tujuh hitungan, lalu keluarkan sepenuhnya melalui mulut selama delapan hitungan sambil membuat suara ‘wusss’.

4) Membantu pencernaan
Tubuh kamu menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi, sehingga kekurangan oksigen dapat menyebabkan ketidaknyamanan di seluruh tubuh. Salah satu tempat utama ini dirasakan oleh usus dengan gejala seperti kembung dan kram. Dengan memperlambat dan bernapas dengan benar, kamu bisa meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh, membantu organ pencernaan bekerja lebih efisien dan mempercepat metabolisme. Ini juga dapat membantu menstabilkan dan menyeimbangkan kadar gula darah. Selain itu, teknik pernapasan dalam dipercaya dapat menurunkan tingkat keasaman dalam tubuh (yang meningkat saat stres), sehingga mengurangi peradangan.

5) Membuatmu lebih percaya diri
Banyak sekali orang merasa bersalah karena memikirkan peristiwa masa lalu dan membiarkan pikiran berpacu ke masa depan untuk hal-hal yang bahkan belum terjadi Ini bisa meningkatkan stres, kecemasan, dan depresi. Melakukan salah satu dari latihan pernapasan di atas, meskipun hanya untuk waktu yang singkat, mendorong kamu untuk lebih percaya diri dengan berfokus pada tindakan pernapasan sederhana. Memperlambat pernapasan dengan teknik yang benar dan penuh perhatian memungkinkan kamu lebih terhubung dengan keadaan sekarang dan terbukti membantu mengelola perasaan depresi serta kecemasan.**(RW)

the authorRino Prasetyo

Leave a Reply